Skip to main content

follow us

Nanta Seutia Raja, Datuak Makhudum Sati dan Sekilas Perang Padri Serta Peranannya di Kerajaan Aceh

Sekilas Perang Padri dan Datuk Makhudum Sati (Nanta Seutia Raja). Tidak banyak yang tahu nama ini. Nah siapakah beliau yang bergelar Datuak Makhudum Sati atau Nanta Seutia Raja itu? Simak ulasan Blogminangkabau.com di bawah ini tentang siapa beliau dan apa hubungan nama Datuak Makhudum Sati dengan Perang Padri.

Beliau merupakan penghulu pemangku adat di Luhak Lima Puluh Koto saat Perang Padri, Perang saudara yang sempat terjadi di Minangkabau sekitaran tahun 1803 - 1838 silam.

Perang Padri sendiri awalnya adalah sebuah perang saudara. Pemicunya perang Padri ini adalah pertentangan antara kaum ulama (padri) dengan kaum adat yang sama-sama pemeluk Islam di Minangkabau.

Saat itu kaum padri ingin agar kaum adat meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang terjadi di masyarakat minangkabau.

Kebiasaan yang dimaksud adalah perjudian, sabung ayam, minuman keras, madat (opium), tembakau, hukum waris dalam adat matriarkat serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual agama islam.

Keinginan kaum padri tidak digubris oleh kaum adat saat itu, sehingga meletuslah Perang Padri.

Menurut sejarah Perang Padri adalah perang yang terjadi sesama islam dan sesama orang minangkabau, dan setelahnya kemudian bergeser menjadi perang melawan kolonialisme. Penjajahan Belanda, Portugis dan Jepang.

Hampir setelah 20 tahun perang saudara di Minangkabau, berkat Tuanku Imam Bonjol, kaum padri dan kaum adat mencapai suatu kompromi dalam Plakat Puncak Pato atau dikenal dengan sebutan Piagam Bukik Marapalam.

Dalam plakat puncak pato atau piagam bukik marapalam itu Mereka Kaum Padri dan Kaum Adat bersepakat mewujudkan sebuah konsensus yang berbunyi:

"Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah" (Adat harus berdasarkan Agama, Agama harus berdasarkan Kitabullah).

Disinilah awal mula pengukuhan atas kolaborasi ajaran islam dengan budaya Asli minangkabau saat itu, yang dipegang teguh hingga sekarang.

Setelah terbentuknya plakat puncak pato ini. kaum padri dan kaum adat bahu-membahu dalam upaya mengusir Belanda dari ranah minang.

Saat perang padri bergulir, Datuk Makhudum Sati dari Luhak Lima Puluh Koto bersama dengan Datuk Rajo Agam (Luhak Agam) dan Datuk Rajo Alam dari Luhak Tanah Datar bersepakat menghindari perang saudara (perang padri) dan memilih mengungsi ke utara.

Dengan menaiki beberapa perahu di pelabuhan Tanjung Mutiara rombongan ketiganya beserta kerabat dan keluarga berlayar ke arah Utara. Dan berlabuh di suatu negeri pantai yang waktu itu bernama Pasir Karam.

Sampai di Teluk Pasir Karam pendatang dari Minangkabau itu sepakat untuk berlabuh “Disikolah kito berlaboh,” ujar mereka.

Konon, semenjak itulah Negeri Pasir Karam dikenal dengan nama Meulaboh dari asal kata berlaboh.

Pendatang dari minang ini kemudian hidup berbaur dengan masyarakat asli di Negeri Pasir Karam.

Mereka menebas hutan mendirikan pemukiman yang menjadi tiga daerah, Datuk Makhudum Sati membuka negeri di Merbau, Datuk Raja Agam di Ranto Panyang dan Datuk Raja Alam Song di Ujong Kala.

Semakin banyaknya orang-orang dari Minangkabau yang merantau ke sana membuat Meulaboh tambah maju.

Mereka membuka perkebunan lada yang membuat daerah ini disinggahi kapal-kapal Inggris yang mencari rempah-rempah.

Kemajuan ini sampai juga ke telinga Sultan Aceh di ibu kota Darod Donya (Banda Aceh) yang memerintah saat itu adalah Poteu Jeumaloe/ Sultan Jamalul Badrul Munir.

Ia segera memerintahkan utusannya untuk memungut pajak/upeti ke daerah Datuk Makhudum Sati, karena wilayah itu masih termasuk kedalam teritorial Kerajaan Aceh.

Instruksi Sultan Aceh ini dituruti Datuk Makhudum Sati dengan mengirimkan "pakaian-pakaian bekas dan besi tua".

Murka dengan hinaan Datuk Makhudum Sati, Sultan memerintahkan Panglima Sagoe-nya yang paling perkasa untuk untuk menghadapi pembangkangan ini.

Sehingga pecahlah perang di Rantau Dua Belas (Aceh Barat). Korban berjatuhan dari kedua belah pihak, tapi pertempuran dimenangkan oleh prajurit-prajurit Kesultanan Aceh.

Seluruh pasukan Datuk Makhudum Sati tewas tetapi ia sendiri tidak mati.

Dengan penuh hati-hati Panglima Sagoe dan pasukannya berusaha mendekati Makhudum Sati.

Ditengah gelimpangan mayat ia terlentang dan berlumuran darah, namun masih saja garang seperti seekor Harimau kelaparan dan terus bersilat.

Tikaman dan tebasan rencong tidak membuat dia tewas juga.

Dengan rasa hormat bercampur ngeri dan mereka membelenggu Datuk Makhudum Sati untuk kemudian dibawa ke Kutaraja.

Dalam perjalanan ia dirantai di belakang buritan kapal, ditenggelamkan kelaut dan diseret hingga Kutaraja.

Sesampainya di pelabuhan Teluk Aceh, ketika diangkat kepermukaan tenyata ia belum mati,
hanya terlihat badan yang menggigil kedinginan dan dipenuhi oleh lumut laut.

Dihadapan Sultan, Datuk Makhudum Sati menerima hukuman.

Sultan memerintahkan Makhudum Sati meminum besi tua yang dia kirimkan dulu.

Dengan ‘bergidik’ orang-orang menyaksikan pemandangan mengerikan, ketika Datuk Makhudum Sati meminum tuangan besi cair yang dalam keadaan panas membara.

Anehnya, kembali Datuk Makhudum Sati tidak juga mati.

Sebaliknya kemudian, Datuk Makhudum Sati justru mendapat pengampunan dari Sultan Aceh.

Karena kesaktian dan kekebalan jasmaninya ia di angkat oleh Sultan menjadi penjaga taman.

Salah satu keturunannya juga berjasa pada sultan berikutnya. Menyelamatkan Sultan dari kudeta yang dilancarkan oleh salah seorang Panglima Sagoe.

Berkat jasa panglima keturunan Minangkabau ini Sultan selamat ancaman dari bahaya.

Atas jasa-jasanya pada Sultan Aceh, Datuk Makhudum Sati diberi kekuasaan di VI mukim untuk turun temurun dan namanya diganti menjadi Nanta Seutia Raja.

Datuk Makhudum Sati setelah peristiwa itu dikenal dengan nama Nanta Seutia Raja kemudian memiliki dua orang putra yang diberi nama Teuku Nanta Seutia dan Teuku Cut Mahmud.

Teuku Nanta Seutia ini adalah ayah Cut Nyak Dhien yang kemudian menjadi penerus uleebalang.

Sedangkan Teuku Cut Mahmud menikah dengan adik raja Meulaboh Cut Mahani.

Dari hasil perkawinan inilah lahir 4 orang putra yang salah seorangnya adalah Teuku Umar suami kedua Cut Nyak Dhien.

Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar adalah sepupu yang juga suami Isteri.

Keduanya cucu kandung dari Datuk Makhudum Sati.

Demikianlah artikel yang membahas tentang Nanta Seutia Raja, Datuak Makhudum Sati dan sekikas tentang perang Padri. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa share ya.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar